Laman

Minggu, 17 Maret 2013

Hubungan Komunikasi Matemaika dengan Model Pembelajaran Think Talk Write


Think Talk Write adalah model pembelajaran yang dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian membuat laporan hasil presentasi. Sintaksnya adalah informasi, kelompok (membaca, mencatat, menandai), presentasi, diskusi, dan melaporkan. Belajar dalam kelompok kecil dengan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memulai belajar secara aktif dalam diskusi kelompok dan akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya.
Adanya keterkaitan antara model pembelajaran Think Talk Write dengan kemampuan komunikasi matematika dapat diketahui dari hubungan antara indicator komunikasi matematika dengan tahap-tahap pembelajaran dalam model pembelajaran Think Talk Write. Model pembelajaran Think Talk Write yang dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan matematika (membaca, menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi) merupakan salah satu bentuk komunikasi matematika. Membaca matematika memiliki peran sentral dalam pembelajaran matematika. Sebab, kegiatan membaca mendorong peserta didik belajar bermakna secara aktif. Istilah membaca diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk menyusun intisari informasi dari suatu teks. Dengan membaca, pembaca tidak hanya sekedar menarik arti dari teks tetapi juga menggunakan pengetahuan, minat, nilai, dan perasaannya untuk mengembangkan makna. Hal tersebut akan mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika, khususnya kemampuan menggunakan kemampuan membaca, menulis, dan menelaah untuk meginterpretasi dan mengevaluasi ide matematika.
Kegiatan selanjutnya dalam model pembelajaran Think Talk Write adalah mengkomunikasikan hasil bacaannya dengan presentasi dan diskusi. The Common Core of Learning, menyarankan semua peserta didik mempelajari matematika seakan-akan mereka berbicara dan menulis tentang apa yang mereka sedang kerjakan. Mereka dilibatkan secara aktif dalam mengerjakan matematika, ketika mereka diminta untuk memikirkan ide-ide mereka, atau berbicara dengan dan mendengarkan peserta didik lain, dalam berbagi ide, strategi dan solusi. Kegiatan ini juga akan mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika khususnya kemampuan mendiskusikan ide-ide matematika, membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi.
Kegiatan terakhir dalam model pembelajaran ini adalah melaporkan dengan menuliskan hasil belajarnya dengan bahasa sendiri. Menulis mengenai matematika mendorong peserta didik untuk merefleksikan pekerjaan mereka dan mengklarifikasi ide-ide untuk mereka sendiri. Membaca apa yang peserta didik tulis adalah cara yang istimewa untuk para guru dalam mengidentifikasi pengertian dan miskonsepsi dari peserta didik. Hal tersebut juga akan mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika khususnya kemampuan menggunakan kemampuan membaca, menulis, dan menelaah untuk menginterpretasi dan mengevaluasi ide matematika. Kemampuan mengemukakan ide matematika dari suatu teks, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan merupakan bagian penting dari standar komunikasi matematika yang perlu dimiliki peserta didik. Sebab, seorang pembaca dikatakan memahami teks tersebut secara bermakna apabila ia dapat mengemukakan ide dalam teks secara benar dalam bahasanya sendiri. Oleh karena itu, untuk memeriksa apakah peserta didik telah memiliki kemampuan membaca teks matematika secara bermakna, maka dapat diestimasi melalui kemampuan peserta didik menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali ide matematika dengan bahasanya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar